Rabu, 01 April 2020

Antologi Cerpen


Fans
Karya : Yuni Iswari Dewi
***
            Badan agak berisi, tinggi standar laki-laki sama seusia dengan lelaki seumur 30 tahunan, kulit agak kecokelatan, dan rupa bisa dikategorikan bisa menjadi dambaan para wanita cantik. Dialah Fans, seorang lelaki yang sudah mengarungi mahligai perkawinan selama 10 tahun lamanya. Fans dan istri telah dikaruniai dua orang jagoan hebat, yang satu berumur 8 tahun, lalu yang satunya baru memasuki usia 3 tahun. Fans sedikit agak canggung melemparkan senyum indahnya pada orang lain, apalagi kepada orang yang baru dikenalnya. Dia pun pandai menyimpan sejuta cerita hidupnya dan masa lalunya kecuali pada istrinya.
             Satu tahun lalu akhirnya Fans dan istri memutuskan untuk berpindah tempat tinggal dengan kemauan hidup berpisah dari keluarga Lina, sang istri, yaitu dengan menempati rumah di sebuah perkampungan yang berlokasi di tengah perkotaan. Sebuah perkampungan yang, biasa orang  sebut Kampung Janganan, tepatnya di wilayah Sewon, kabupaten Bantul. Masyarakatnya mayoritas berprofesi sebagai buruh atau pekerja kasar, bisa dikatakan perbandingannya dengan pekerja kantoran, 90 % :10%.  Rumah yang mereka tempati itu sebenarnya sudah berdiri 10 tahun yang lampau, tadinya menjadi rumah yang disewakan, akan tetapi dua bulan terakhir penghuni kontrakan melarikan diri karena tidak sanggup menyelesaikan pelunasan pembayaran pada kontrak sewa rumah seperti perjanjian di awal menempati.
Suatu ketika, Fans yang terleka dengan aktivitasnya, ia pun menjadi buah bibir masyarakat, karena memang Fans jarang berbaur dengan warga sekitar, ia sibuk dengan menjalankan usaha managernya di beberapa cabang di wilayah bahkan terkadang harus ke cabang di luar kota. Beberapa kali pertemuan warga pun, ia tidak bisa merapat, karena memang sangatlah menyita waktu baginya. Berangkat mengais rezeki sebelum surya keluar dan pulang pun mentari  tak menyapanya pula. Kantornya tempat bekerja bergerak di distributor alat kesehatan. Fans dipercaya mengemban instruksi langsung dari bos nya sehingga segala perputaran produk milik Koh Cuang menjadi tanggung jawab yang harus dia selesaikan dengan baik dan maksimal. Sosok Fans mencatat segala pemasukan, pengeluaran bahkan sampai penghitungan laba dalam periode tertentu, tak lupa cekatan dan tangkas merampungkan tugas penuh semangat membara dan telaten memainkan spekulasi perkembangan bisnis kantornya. Sungguh luar biasa hati dan pikirannya tertaut dengan perusahaan Koh Cuang. Memang benar adanya, setiap perusahaan bisa memperoleh laba besar karenanya, , Koh Cuang memberikan Fans hadiah berpesiar dengan keluarga kecilnya ke luar negeri.
***
            Malam menghembuskan udara dingin  tepatnya Sabtu malam  pukul 19.30  waktu itu, ada acara di kampung tempat tinggal Fans. Ia pun tidak pula bisa mendatangi acara pertemuan warga yaitu perkumpulan para Bapak, Seperti biasa, sebuah pertemuan rutin triwulan yang berlangsung., Yang biasanya Pak Seno rajin menyambangi Fans sebelum acara rapat dimulai, namun kebosanan pun melandanya karena ternyata Fans sudah pasti tidak bisa berangkat seperti biasanya, hal tersebut sudah berlangsung pada  satu tahun terakhir ini, yang akhirnya Pak Seno pun memutuskan berangkat dari rumah sendiri tanpa teman meskipun rumahnya berhadapan dengan rumah Fans. Lama kelamaan, akhirnya Fans sempat menjadi bahan guncingan warga. Apakah memang sangatlah sibuk sekali untuk urusan kerjanya saja dalam prinsip hidupnya itu, padahal sebenarnya setiap orang pasti bisa memanage waktu, mulai dari urusan rumah tangganya, kerjanya, keluarganya bahkan bersosialisai dengan masyarakat sekitar.  Beberapa tetangga sampai  bilang “ora lumrah uripe neng kampung ngantek ora biso ngombyongi tonggo”. Itu tuturan segelintir tetangga yang berada dalam kondisi heterogen profesi didalamnya. Parahnya lagi, beberapa tetangga yang terkadang menunggu kepulangan Fans dari kerja di angkringan Om Roziqin seberang jalan agak timur laut terpaut hanya 30 meter dari rumahnya Fans  Akhirnya warga kampung pun menjadi tambah penasaran karena hal tersebut. Dari mulai ingin tahu dilanjut penasaran dan seolah ingin mengintrogasi sosok Fans yang sulit ditemui itu. Ada apa denganmu Fans?
Hem…udara bersih dan segar pun mulai menyapa, bau menyengat tanah basah setelah  semalam diguyur hujan pun membuat kita penikmat pagi segera ingin berjibaku dengan aktivitas rutin kesehariannya, tiba-tiba ba’da sholat Subuh sepulang dari masjid Al-Mukmin, tepatnya Hari Selasa, tetangga sebelah barat rumah menyambangi  rumah Fans, Pak Sholeh sebut namanya, ia ingin bersua menyampaikan hasil rapat kemarin malam tentang kesepakatan ronda yang sudah diputuskan bersama. Karena memang Pak Sholeh sudah diberi amanah untuk menyampaikan pesan berupa hasil rapat khusus pada Fans oleh Bapak Sihono, selaku ketua Rukun Tetangga di wilayah itu. Pak Sholeh ini adalahtetangga yang berprofesi  buruh srabutan, pekerjaan apa yang menghasilkan uang maka segera ia sabetnya.Terakhir ini Pak Sholeh ikut membantu orang menyelesaikan pembuatan rumah ular berbahan kayu yang nanti akan dikirim ke Australia.
“Tok tok tok, Assalamualaikum?”, pintu rumah Fans diketok Pak Sholeh.
Wa’alaikumsalam, ya, sebentar”, sahut Fans pula.
Setelah dibuka pintu rumahnya, Fans sempat terkejut karena ada tamu istimewa datang di pagi buta. Tetapi itu pun tak membuat Fans kecewa ataupun marah karena siapa tahu ada berita penting yang memang akan disampaikannya.  Setelah tamu dipersilakan masuk dan dipersilakan duduk oleh Fans. Fans pun sambil menyiapkan minuman hangat pagi buat Pak Sholeh, tanpa sengaja Pak Sholeh mendapati koleksi akik milik Fans yang dipajang di etalase berjejer dengan koleksi keramik kesukaan keluarga itu. Batu akik yang dimilikinya sangatlah banyak dan beragam, ada 10 bok tempat batu akik tertata rapi dan unik susunanya, mulai dari batu Bacan hijau cantik bermotif hitam, Kecubung ungu yang menawan, Safir biru star yang menarik, Zamrud hijau temaram bening, Opal Kalimaya klasik dengan warna warni seperti lampu diskotik yang khas, Giok yang indah, Lavender si ungu muda, Red Raflesia, Badar Emas, dan masih banyak yang lainnya, yang bisa dikategorikan termasuk batuan mahal menurutnya. Hal ini sempat membuat Pak Sholeh heran bahkan terpukau melihat semuanya itu.
Tak lama kemudian,  Fans datang membawa sajian teh siap dihidangkan untuk Pak Sholeh
“Silakan Pak Sholeh duduk dan menikmati hangatnya teh buatan saya, bagaimana kabarnya dan ada yang bisa dibantu?” begitu sapa Fans dengan hangat.
            “Iya Pak Fans,sebelumnya minta maaf  pagi betul harus bertandang ke rumah Bapak, dan terima kasih sekali, saya hanya akan menyampaikan pesanan Bapak Ketua Rukun Tetangga  tentang  hasil  rapat  Bapak-bapak  kemarin malam tentang keputusan bersama akan pemberlakuan  jadwal ronda masing-masing nama warga beserta denda yang akan diberlakukan berkaitan dengan ketidakhadirannya. Behubung Pak Fans sangat sibuk maka saya menyampaikan hal ini pada Bapak”, begitu tuturan Pak Sholeh..
            Selang beberapa menit menyampaikan segala sesuatu tentang keputusan ronda secara rinci, akhirnya Pak Sholeh bergegas memohon ijin untuk berpamitan karena dirasa sudah cukup segala sesuatu disampaikannya pada Bapak Fans, bahkan seharusnya sebentar lagi  Fans akan segera berangkat menunaikan tugas kerjanya pagi ini. Tak lupa Fans mengucapkan terima kasih atas perhatian Bapak Sholeh padanya.
***
            Seminggu kemudian setelah Pak Sholeh berkunjung ke rumah Fans, ternyata hal ini membuat Fans tambah tak bisa berkutik karena ternyata si bungsu ketika Fans pulang lebih awal, si kecil bertanya pada Fans bahwa apakah paranormal itu, Yah? Apakah ayah seorang paranormal karena batu akik yang begitu banyak? karena menurut  para tetangga, si ayah adalah paranormal, Fans pun  tambah kebingungan  harus menjawab seperti apa karena si bungsu belum begitu paham akan arti semua itu. 
            Fans pun hanya bisa diam dan tidak langsung menjawabnya. Meskipun dalam hatinya, Fans merasa zona nyamannya mulai terganggu dengan kondisi seperti itu. Fans yang tidak banyak berkata- kata itu sempat goyah karena seolah warga masyarakat tidak bisa menerima  kondisi Fans disitu. Begitu sulitnya, apakah  harus Fans menyampaikan semua tentang hidupnya pada semua warga? Hati bergejolak, dilema melanda bahkan ia seolah-olah sulit menerima  sebuah kemyataan..
Setelah si bungsu beranjak pergi, Fans pun bergegas masuk kamar dengan kepala mendidih , dan dengan  tangan mengepal  sekuat tenaga, dia pun menghunjamkannya tepat ke cermin yang ada di depannya. Sang istri pun sontak terkejut, dan mencoba meredam gejolak kemarahan suaminya. Didatangi suaminya dan dipegang pundaknya sambil berucap,
            “Sabar Yah, bagaimana pun sabar,”  begitu kalimat itu terlontar dari bibir manis strinya.
            “Aku paham yang dimaksud Fadhil bertanya pada Ayah seperti  itu, dia masih kecil dan sangat polos menyampaikan segala sesuatu apa adanya sesuai dengan lingkungan mengajarinya” begitu tukas lanjutannya.
            “Ayo duduklah dan kita patut istihgfar Yah”, sahut Lina.
            “Semuanya milik Alloh dan kita akan kembali padaNya, termasuk akan mempertanggungjawabkan segala perilaku dan tindakan kita dihadapanNya kelak ”, redam sang istri
Tak lama kemudian, Fans pun menyampaikan curahan hatinya.
            “Aku merasa meskipun aku tidak pernah mencampuri urusan orang lain diluaran, aku tidak pernah mengganggu mereka. Bolehlah orang berkata apapun asal tidak menuduhku seorang paranormal, aku merasa ini sudah penghinaan!, semua ini jelas bertentangan dengan hati nurani dan keyakinanku, lalu apa artinya ibadahku! ”, begitu jawab Fans.
            Sang istri pun memilih untuk diam membiarkan kondisi itu sejenak dengan mendengarkan apa saja ungkapan kegalauan suaminya itu.
***
            Selang berapa hari kemudian agar tidak menyulut api kemarahan maka Lina tak pernah menyinggung lagi kegalauan yang sedang menghantui pikiran suami tercintanya.
            Seminggu kemudian, saat itulah Fans mulai mereda dan mulai membicarakan kelanjutan masalah serius ini dengan istrinya. Fans pun dengan permasalahan yang terus bergelayut  akan kondisi satu itu dan merasa mengusik pikirannya. Tanpa berpikir panjang dia mengatakan pada istrinya, ingin berniat segera keluar dari kampung itu, atau secara geografis, ia ingin mengajak keluarga kecilnya segera berpindah tempat tinggal dari perkampungan itu. Biar masalah itu selesai menurut solusi pendeknya Fans.
Tetapi sang istri justru dengan sabar dan tenang tetap berusaha memberikan masukan, saran dan keredaan akan gejolak hati pada suaminya itu.
            “Yah, ingatkah akan rejeki kita yang saat ini kita peroleh?”, begitu tenangnya sang istri menyampaikan dengan penuh perhatian.
            “Rumah yang kita tempati ini adalah rumah yang kita dapatkan atas waris orang tua kita, yang pernah kita tau bahwa di sertifikat itu sudah tertuliskan bahwa hak milik ini sudah diatas namakan Ayah?”, begitu perlahan dan hati-hati Lina sang istri menyampaikan dan mengingatkan akan permasalahan suaminya itu.
            Sedikit penuh perhatian pula dan mengingatkan akan perjuangan orang tua yang telah berjuang membebaskan tanah ini dari perebutan sengit ahli waris antar saudara kandungnya yang saling mengancam akan membunuh. Sungguh  bisa menempati rumah di perkampung Lina ini semuanya  penuh  perjuangan tak berhenti dan harus ikhlas menempatinya secara lahir dan batin demi menghormati keputusan orang tuanya.  Maka Fans mencoba meredam gejolak yang sempat mendidihkan kepalanya itu, meskipun hati kecilnya terkadang tetap agak sulit bisa menerima tuduhan tak beralasan tersebut.
* * *

PENULIS
Nama saya Yuni Iswari Dewi, S. Pd. Saya adalah seorang pengabdi negara di dunia pendidikan yang selalu dan senantiasa senang,  asyik dan unik berdampingan dengan anak-anak yang, dengan polosnya serta semangatnya menjadikan lecutan motivasi yang luar biasa bagi saya secara pribadi. Di bawah Kementerian Agama, ikut mengemban amanah di sebuah Madrasah Tsanawiyah Negeri Piyungan, tepatnya berlokasi di Jalan Wonosari Km.10 Yogyakarta 55792 (jikalau pernah berkunjung ke Kids Fun, maka sekitar 1 km ke arah selatannya). Ayo monggo jika pas rekreasi disana bisa silaturahmi untuk mengikat tali persaudaraan yang insyaalloh tidak akan putus di dunia dan akherat,aamiin. Boleh di add facebooknya atas,  nama saya, semoga bertambah teman, bertambah pula ilmu kita. Aamiin.


* Karya ini diantologikan dalam Antologi Cerpen Bangku Taman, hasil karya kelas memasak cerita, terbit cetakan pertama pada bulan Oktober 2017. 


           

Senin, 09 Maret 2020

Esai Pendidikan Karakter dan Literasi


Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membangun Peradaban di Madrasah
Madrasah adalah lembaga pendidikan yang mencetak generasi penerus bangsa menuju ke sistem pendidikan yang lebih baik. Madrasah atau kata lain dari sekolah itu harus mampu melahirkan anak bangsa yang memiliki cukup ilmu serta nilai agama yang tinggi serta akhlak mulia. Pendidikan di madrasah  inilah merupakan suatu hal yang dianggap penting karena dimanapun suatu tempat pastilah membutuhkan orang-orang yang berpendidikan agar dapat membangun peradaban yang lebih maju. Pendidikan di ranah pembentukan karakter pun sangat diutamakan karena orang-orang pada zaman ini tidak hanya melihat pada betapa tinggi pendidikan ataupun gelar yang telah ia raih, melainkan juga pada karakter dari pribadi perorang.
Saya adalah guru di salah satu madrasah di Bantul yang termasuk dalam bagian besar ikut andil membantu proses mendidik siswa-siswa menjadi generasi yang lebih baik, termasuk didalamnya tidak sekedar mentransfer ilmu untuk level kognitifnya saja, melainkan ikut serta mendidik akhlak dan kepribadian siswa dalam pembentukan karakter di madrasah. Realitanya banyak guru hanya berniat mengajar sebagai salah satu syarat sah menuntaskan kewajiban, namun mengajarkan etika-etika siswa yang harus terbentuk dari proses awal untuk bekal  berkesinambungan menuju masa depan masih dikesampingkan. Hal ini sungguh sangat disayangkan, banyak hal bisa kita lakukan untuk para pewaris sekaligus penerus estafet kepemimpinan itu harus terhenti di tengah jalan karena kelalaian kita terhadap pendidikan karakter yang jelas sehingga mampu membuat generasi beradab dan berakhlaqulkarimah.
Beberapa pilar karakter yang bisa dibangun mulai dari kejujuran dalam bertindak, bersikap dan bertutur kata. Kemudian disiplin dan tertib  dalam menjalankan aturan, bersikap adil dalam segala kondisi, dan memupuk rasa hormat kepada yang lebih tua, hal ini bisa dilakukan sejak dini dan secara kontinu serta sungguh-sungguh, sehingga mampu menjadi kebiasaan para siswa dalam keseharian baik di madrasah terlebih lagi di masyarakat yang bisa dijadikan teladan yang baik. Inilah bagian dari potensi kecerdasan siswa yang dilandisi oleh jiwa dan karakter kuat bebas dari korupsi, ketidakadilan dan lainnya, sehingga membantu mewujudkan negara lebih kuat dan beradab.

Yuni Iswari Dewi, MTsN 9 Bantul

Majalah Dinding Menumbuhkan Minat Berliterasi
Program gerakan literasi di sekolah dengan membudayakan kegiatan membaca sangat positif dilakukan dan dibiasakan kepada siswa sejak dini. Salah satu kreativitas dalam menumbuhkan minat baca di sekolah saya di MTsN 9 Bantul adalah siswa membuat majalah dinding nan cantik dengan segenap aksesoris serta properti yang mendukung tampilan majalah dindingnya, sehingga para pengunjung sekaligus pembaca akan diajak berkelana seolah-olah menjadi lebih tau sejuta informasi dalam waktu yang cepat dan singkat. Tujuannya sangat sederhana yaitu memperkenalkan dan mendorong siswa agar memiliki kebiasaan membaca dimana saja dan kapan saja. Siswa tidak hanya dibawa ke perpustakaan atau diperkenalkan dengan pojok baca di dalam kelas. Namun mendorong siswa di kelas untuk membaca mading yang ada di luar kelas itu sangatlah menarik sekaligus membunuh kebosanan beraktivitas di kelas. Beberapa manfaat majalah dinding selain sebagai media aktif berliterasi yaitu sebagai media komunikasi, wadah kreativitas, menambahkan kebiasaan membaca, pengisi waktu, melatih kecerdasan berpikir, melatih berorganisasi, dan mendorong latihan menulis. Dengan demikian sebagai motivasi literasi dan penumbuhan semangat membaca dan menulis.
Banyak bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat agar mading menarik, mulai dari kertas kado yang berwarna, lem, kemudian spidol kecil warna-warna bahkan barang bekas dan daun serta ranting kering pun bisa dimanfaatkan untuk menghias sekeliling mading. Pemilihan warna pun menunjang tampilan mading lebih menantang sehingga kesan pertama indah.
Sajian menu mading sangatlah beragam, mulai dari tema/materi mading silih berganti, gambar yang menarik, lebih lagi hasil karya siswa yang berbakat pun muncul di mading sebagai ujud apresiasi yang terhangat. Hal inilah yang akan memberikan pemberian penghargaan sebagai rasa tanggung jawab keotentikan hasil karya siswa sehingga menjadikan siswa lebih aktif lagi untuk membaca dan menulis banyak hal tentang segala informasi yang kian melesat.
Melalui kegiatan literasi bermediakan kreativitas mading akan mengajak pihak sekolah selalu memberikan sosialisasi betapa pentingnya kegiatan berliterasi, sehingga dapat mengenalkan tumbuhnya minat serta bakat untuk menyalurkan kemampuan menulis siswa sehingga hasil karyanya menjadi kebanggaan yang terbaca dan bermanfaat bagi orang lain.   

                                                                                                Yuni Iswari Dewi, MTsN 9 Bantul

Kedua karya tulis tersebut berupa karya esai terpilih dan diterbitkan dalam antologi buku berjudul 'Pendidikan Berkemerdekaan', menulis bersama Najela Shihab dalam event yang diselenggarakan oleh GMB-Indonesia pada bulan Januari 2020.


  



Kamis, 27 Februari 2020

Menulis Berita bagi Pemula

Menulis Berita Bagi Reporter Pemula :
Beberapa teman seprofesi saya, redaktur di koran lokal terbitan Medan dan juga suratkabar nasional di Jakarta, dalam kesempatan berkomunikasi via telepon sering mengeluhkan sulitnya mencari reporter yang mampu menulis berita dengan baik. “Waktu direkrut, dia mengerti dan tahu menjelaskan apa itu 5W1H dan piramida terbalik, tetapi setelah beritanya ditulis, pusing saya membacanya karena tidak jelas apa maksudnya,” kata seorang teman wartawan yang pernah bekerja sebagai pemimpin redaksi di sebuah koran harian. “Lalu kalau dia tidak mengirim berita, alasannya karena tidak ada berita yang menarik untuk diliput.”
Tidak tahu teknik menulis berita dengan baik, dan tidak mengerti bagaimana cara mencari berita yang layak-tulis. Masalah ini saya pikir terjadi di semua daerah di Indonesia, banyak koran mengalaminya. Apalagi jumlah media cetak semakin banyak sementara orang yang benar-benar terpanggil menjadi wartawan sangatlah sedikit.

Di bawah ini saya bagikan beberapa tips jurnalistik dari pengalaman saya selama 15 tahun lebih menulis berita di koran dan situs Internet. Sekarang untuk level reporter pemula, dan nanti di kesempatan lain saya akan menulis tips dan teknik jurnalistik untuk tingkat redaktur agar tidak “ditokoh-tokohi” reporter.


Tips jurnalistik dasar bagi wartawan pemula: bagaimana menulis berita yang baik untuk koran

#1: Menulis dengan jujur.
Fakta tidak boleh dipelintir. Opini dan penafsiran harus ditulis dalam alinea yang berbeda. Boleh tidak netral, tapi harus independen.
Berbohong dalam berita adalah dosa terberat wartawan. Jika jumlah aktivis LSM yang mendemo bupati hanya puluhan orang, jangan tulis ratusan atau ribuan orang. Berita bohong seperti ini sangat sering muncul di koran-koran daerah, terutama menyangkut liputan pilkada.

Jika harus menulis interpretasi atas sebuah fakta, tuliskanlah di paragraf terpisah, dan tunjukkan secara jelas kepada pembaca supaya mereka tahu mana yang fakta dan mana opini atau penafsiran si wartawan.

Reporter yang meliput berita di lapangan harus bersikap independen terhadap semua pihak yang terkait dengan topik tulisannya. Berikan kesempatan yang sama bagi semua narasumber untuk menjelaskan versi mereka, jangan memvonis kebenaran. Wartawan boleh tidak netral, misalnya kalau harus memihak pada rakyat yang jadi korban penindasan penguasa, namun harus selalu independen dengan memberikan kesempatan pada penguasa untuk berbicara.

#2: Tanda Baca koma dan pola piramida terbalik.
Berhati-hatilah menggunakan tanda baca koma. Bila salah penempatan, maka redaktur di kantor redaksi bisa salah memahami laporan anda. “Amir memukul, Budi ditangkap polisi” (yang memukul ialah si Amir, kok malah Budi yang ditangkap) adalah berbeda maknanya dengan “Amir memukul Budi, ditangkap polisi” (ini benar, yang ditangkap adalah Amir).

Menulis berita biasa haruslah dalam format piramida terbalik. Yang paling penting di bagian paling atas; alinea-alinea di bawahnya semakin kurang penting. Saya sering membaca berita koran daerah yang memuat nama-nama pejabat yang menghadiri sebuah acara seremonial pada alinea kedua atau ketiga, padahal inti beritanya justru di alinea kelima atau bahkan menjelang akhir.

#3: Catat dengan detail. Dengarkan dengan cermat. Rekam, jangan andalkan ingatan.
Saya sering melihat reporter koran yang baru beberapa tahun bekerja melakukan wawancara atau liputan berita di lapangan dengan tidak mencatat sama sekali! Manusia dengan otak super! Bahkan hanya duduk di warung kopi dengan jarak seratusan meter dari lokasi demo atau acara seremonial yang akan jadi topik beritanya. Tapi sepulang meliput, dia bisa dengan santai menulis berita di komputer warnet, tanpa takut sedikit pun bahwa kemungkinan ada data dan fakta yang salah-tulis.

Wartawan pemula sering malu untuk bertanya, “Pak Kadis, ejaan nama Bapak yang benar Jhonny atau Joni atau bagaimana?”
Kalau narasumber mengucapkan kalimat dengan makna ganda atau kurang jelas, tanyakan kembali dan tegaskan. Jangan sampai yang dia maksud adalah “Polisi belum akan memeriksa dia” tapi anda tulis dalam berita sebagai “Polisi tidak akan memeriksa dia”.

#4: Tulis dalam kalimat yang jelas, lengkap, dan jernih.
Redaktur koran harian akan membiarkan naskah berita reporter yang ditulis dengan kalimat yang membingungkan, karena dia dikejar tenggat menyelesaikan halamannya. Kalau anda menulis berita kriminal tentang mencuri, maka sebutkan sejelas-jelasnya SIAPA yang mencuri, SIAPA yang menjadi korban, dan APA yang dicuri. Jangan anda malah asyik menulis BAGAIMANA pencurian itu terjadi, atau ajakan kapolsek agar warga melakukan ronda malam.
Yang paling mendasar dalam sebuah berita biasa ialah APA dan SIAPA, baru kemudian DI MANA, KAPAN dan yang lainnya. Jangan tulis “Menurut Amir, bla-bla-bla…” tanpa anda jelaskan siapa itu si Amir; apakah dia demonstran, penonton aksi demo, atau pendukung pihak yang didemo.
Sering saya melihat pembaca koran menggerutu, “Apa maksudnya berita ini, tak jelas.” Berita mesti ditulis dengan kalimat yang jernih. Susunlah kalimat-kalimat tunggal, dan sebisa mungkin hindari memakai anak kalimat jika hal itu berpotensi membuat pembaca bingung.

#5: Fokus pada topik berita. Jangan melebar ke sana-sini.
Sejak meliput dan wawancara di lapangan, reporter koran sudah harus tahu apa topik atau sudut pandang laporannya. Bila memilih “nasib guru honorer berupah kecil”, maka temuilah pihak-pihak yang terkait dengan isu tersebut. Selain wawancara dengan guru, tanyai juga kepala sekolah, pejabat Dinas Pendidikan, anggota DPRD dari komisi yang membidangi pendidikan, pensiunan guru, dll. Jangan malah anda hanya mengutip komentar aktivis LSM karena dia punya saudara yang baru diputus-kontrak sebagai guru honorer.

Kalau misalnya anda kesal melihat seorang pejabat yang suka berindehoi di kafe-kafe malam, maka liputlah itu secara khusus dan jangan selipkan pada berita bertopik lain, “Ditanya mengenai dugaan korupsi stafnya, Kepala Dinas yang sering berdisko di Tenda Biru ini mengatakan….” Terlalu nampak ‘kali tak dikasih amplop. Malu kita sebagai wartawan.

#6: Tulis dengan proporsional, jangan berlebihan.
Ini kelemahan banyak reporter koran di daerah. Fakta yang diaperoleh dari narasumbernya, katakanlah kejaksaan, adalah bahwa Kabag Umum sedang diselidiki terkait kasus dugaan penggelembungan dana pembelian seprai dan gorden rumah dinas bupati. Tapi kemudian ditulisnya dalam berita “Tapanuli Utara sarang korupsi”. Jika anda ingin menulis berita Tapanuli Utara sebagai sarang korupsi, maka beberkanlah sekian banyak data kasus korupsi di daerah itu.
Ada wartawan koran menulis berita “Dengan arogannya Camat menjawab via telepon bahwa…” hanya karena si narasumber berbicara ketus-ketus.
Sebaliknya reporter lain yang baru mendapat amplop tebal dari pejabat mengirim naskah berita ke redaksinya “Bupati yang sangat dicintai rakyatnya ini mengatakan…,” padahal si bupati baru saja ditetapkan sebagai tersangka korupsi dan beberapa kali didemo warga.

#7: Periksa kalimat kutipan, pernyataan off the record, konfirmasi, dan “ucapan di kedai kopi”.
Jangan biarkan beritamu memiliki celah untuk digugat ke pengadilan. Jika harus menulis kalimat langsung, maka tulislah seperti apa adanya diucapkan oleh narasumber. Bila dia mengucapkan kalimat dalam bahasa daerah, misalnya bahasa Batak, telitilah saat menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.
Saat melihat catatan atau mendengar rekaman wawancara, jika anda bingung atau lupa mana bagian informasi yang merupakan pernyataan off the record (tidak untuk ditulis) dan mana yang bukan, tunda dulu menuliskan bagian itu sebelum berhasil mempertanyakan kembali pada narasumber berita.
Si A menuding si B. Apakah anda sudah melakukan konfirmasi pada si B? Jika belum, jangan dulu menulis berita itu. Kalaupun harus, karena alasan-alasan tertentu, seperti deadline atau faktor kemenarikan topik berita, maka samarkanlah secara total identitas si B. Kalau si A menuding si B dalam tiga hal, maka konfirmasinya tidak boleh hanya menyangkut satu hal.

Wartawan koran duduk-duduk santai bersama pejabat dan politikus di kedai kopi, lalu ada seorang pejabat yang melontarkan pernyataan menarik, kemudian si reporter mengutip kalimat tadi dalam beritanya dengan menuliskan nama si pejabat. Jangan lakukan yang begini. Anda harus kembali menemui si pejabat untuk meminta izin apakah kalimatnya itu boleh anda kutipkan ke dalam berita.

#8: Yang terakhir, dan ini sangat mendasar: Patuhilah kode etik jurnalistik yang melarang wartawan melakukan plagiat atau menjiplak.
Jangan kira jika anda mengutip beberapa kalimat berita dari koran lain, atau menyadur bahan dari Internet, maka hal itu tidak akan ketahuan. Percayalah, cepat atau lambat akan ada pembaca yang komplain dan menyampaikannya kepada redaksi anda di kantor. Jika begitu, karir kewartawanan anda sudah sedang di ujung tanduk. Redaktur anda akan wanti-wanti untuk menerbitkan berita yang anda laporkan, dan koran lain pun akan berpikir keras untuk menerima lamaran dari wartawan tukang jiplak.

Saya punya pengalaman soal ini. Dulu di sebuah koran mingguan, di mana saya menjadi pemimpin redaksi, ada seorang redaktur saya yang menulis ulasan mengenai ulos Batak “sepanjang air sungai mengalir” alias sangat-sangat panjang. Tulisan itu terbit beberapa edisi, dan memakan ruang satu halaman penuh. Pada edisi kedua, ada seorang pembaca mengirim email kepada saya, dan ada dua orang lainnya yang menelepon langsung ke ponsel saya. Mereka komplain dan mengatakan bahwa artikel perihal ulos Batak itu adalah plagiat alias dijiplak dari situs blog di Internet, dan bukan karya si redaktur.

Memang pada tulisan itu, di bawah judulnya, tertulis “oleh…” (tanda titik-titik adalah nama si redaktur), tanpa keterangan sedikit pun bahwa karya tersebut dikutip dari sejumlah blog Internet. Bahkan dengan beraninya si redaktur menulis kredit-foto pada gambar-gambar ulos: “Foto oleh…” (juga tertulis namanya).
Setelah saya cek dan benar bahwa semua isi artikel dan foto itu adalah karya cipta milik beberapa blogger di Internet, pada koran edisi berikutnya saya menambahkan keterangan di bawah judul: “Dikutip dari berbagai sumber di Internet”. Seharusnya saya hendak menulis alamat-alamat blog yang dikutip, tapi ada alasan tertentu sehingga tidak jadi.

Beberapa hari kemudian dalam rapat redaksi, si redaktur malah protes pada saya. “Mengapa Pemred bikin begitu. Itu sama saja telah melecehkan saya. Berhari-hari saya mencari bahannya dan menggabungkannya menjadi satu tulisan,” katanya.
Bah, makjang! Sudah ketahuan menjiplak tapi masih berkelit pula. Yang dilecehkan itu sebenarnya siapa: dia atau blogger si penulis asli? Tidak lama kemudian, setelah muncul kesalahan-jurnalistik lain dalam tugasnya sebagai redaktur, akhirnya saya memecat dia dan mencari redaktur baru. » Jarar Siahaan dotcom.


Sumber : 
http://jararsiahaan.com/jurnalisme/teknik-cara-tips-menulis-berita-wartawan-koran/152/