Rabu, 01 April 2020

Antologi Cerpen


Fans
Karya : Yuni Iswari Dewi
***
            Badan agak berisi, tinggi standar laki-laki sama seusia dengan lelaki seumur 30 tahunan, kulit agak kecokelatan, dan rupa bisa dikategorikan bisa menjadi dambaan para wanita cantik. Dialah Fans, seorang lelaki yang sudah mengarungi mahligai perkawinan selama 10 tahun lamanya. Fans dan istri telah dikaruniai dua orang jagoan hebat, yang satu berumur 8 tahun, lalu yang satunya baru memasuki usia 3 tahun. Fans sedikit agak canggung melemparkan senyum indahnya pada orang lain, apalagi kepada orang yang baru dikenalnya. Dia pun pandai menyimpan sejuta cerita hidupnya dan masa lalunya kecuali pada istrinya.
             Satu tahun lalu akhirnya Fans dan istri memutuskan untuk berpindah tempat tinggal dengan kemauan hidup berpisah dari keluarga Lina, sang istri, yaitu dengan menempati rumah di sebuah perkampungan yang berlokasi di tengah perkotaan. Sebuah perkampungan yang, biasa orang  sebut Kampung Janganan, tepatnya di wilayah Sewon, kabupaten Bantul. Masyarakatnya mayoritas berprofesi sebagai buruh atau pekerja kasar, bisa dikatakan perbandingannya dengan pekerja kantoran, 90 % :10%.  Rumah yang mereka tempati itu sebenarnya sudah berdiri 10 tahun yang lampau, tadinya menjadi rumah yang disewakan, akan tetapi dua bulan terakhir penghuni kontrakan melarikan diri karena tidak sanggup menyelesaikan pelunasan pembayaran pada kontrak sewa rumah seperti perjanjian di awal menempati.
Suatu ketika, Fans yang terleka dengan aktivitasnya, ia pun menjadi buah bibir masyarakat, karena memang Fans jarang berbaur dengan warga sekitar, ia sibuk dengan menjalankan usaha managernya di beberapa cabang di wilayah bahkan terkadang harus ke cabang di luar kota. Beberapa kali pertemuan warga pun, ia tidak bisa merapat, karena memang sangatlah menyita waktu baginya. Berangkat mengais rezeki sebelum surya keluar dan pulang pun mentari  tak menyapanya pula. Kantornya tempat bekerja bergerak di distributor alat kesehatan. Fans dipercaya mengemban instruksi langsung dari bos nya sehingga segala perputaran produk milik Koh Cuang menjadi tanggung jawab yang harus dia selesaikan dengan baik dan maksimal. Sosok Fans mencatat segala pemasukan, pengeluaran bahkan sampai penghitungan laba dalam periode tertentu, tak lupa cekatan dan tangkas merampungkan tugas penuh semangat membara dan telaten memainkan spekulasi perkembangan bisnis kantornya. Sungguh luar biasa hati dan pikirannya tertaut dengan perusahaan Koh Cuang. Memang benar adanya, setiap perusahaan bisa memperoleh laba besar karenanya, , Koh Cuang memberikan Fans hadiah berpesiar dengan keluarga kecilnya ke luar negeri.
***
            Malam menghembuskan udara dingin  tepatnya Sabtu malam  pukul 19.30  waktu itu, ada acara di kampung tempat tinggal Fans. Ia pun tidak pula bisa mendatangi acara pertemuan warga yaitu perkumpulan para Bapak, Seperti biasa, sebuah pertemuan rutin triwulan yang berlangsung., Yang biasanya Pak Seno rajin menyambangi Fans sebelum acara rapat dimulai, namun kebosanan pun melandanya karena ternyata Fans sudah pasti tidak bisa berangkat seperti biasanya, hal tersebut sudah berlangsung pada  satu tahun terakhir ini, yang akhirnya Pak Seno pun memutuskan berangkat dari rumah sendiri tanpa teman meskipun rumahnya berhadapan dengan rumah Fans. Lama kelamaan, akhirnya Fans sempat menjadi bahan guncingan warga. Apakah memang sangatlah sibuk sekali untuk urusan kerjanya saja dalam prinsip hidupnya itu, padahal sebenarnya setiap orang pasti bisa memanage waktu, mulai dari urusan rumah tangganya, kerjanya, keluarganya bahkan bersosialisai dengan masyarakat sekitar.  Beberapa tetangga sampai  bilang “ora lumrah uripe neng kampung ngantek ora biso ngombyongi tonggo”. Itu tuturan segelintir tetangga yang berada dalam kondisi heterogen profesi didalamnya. Parahnya lagi, beberapa tetangga yang terkadang menunggu kepulangan Fans dari kerja di angkringan Om Roziqin seberang jalan agak timur laut terpaut hanya 30 meter dari rumahnya Fans  Akhirnya warga kampung pun menjadi tambah penasaran karena hal tersebut. Dari mulai ingin tahu dilanjut penasaran dan seolah ingin mengintrogasi sosok Fans yang sulit ditemui itu. Ada apa denganmu Fans?
Hem…udara bersih dan segar pun mulai menyapa, bau menyengat tanah basah setelah  semalam diguyur hujan pun membuat kita penikmat pagi segera ingin berjibaku dengan aktivitas rutin kesehariannya, tiba-tiba ba’da sholat Subuh sepulang dari masjid Al-Mukmin, tepatnya Hari Selasa, tetangga sebelah barat rumah menyambangi  rumah Fans, Pak Sholeh sebut namanya, ia ingin bersua menyampaikan hasil rapat kemarin malam tentang kesepakatan ronda yang sudah diputuskan bersama. Karena memang Pak Sholeh sudah diberi amanah untuk menyampaikan pesan berupa hasil rapat khusus pada Fans oleh Bapak Sihono, selaku ketua Rukun Tetangga di wilayah itu. Pak Sholeh ini adalahtetangga yang berprofesi  buruh srabutan, pekerjaan apa yang menghasilkan uang maka segera ia sabetnya.Terakhir ini Pak Sholeh ikut membantu orang menyelesaikan pembuatan rumah ular berbahan kayu yang nanti akan dikirim ke Australia.
“Tok tok tok, Assalamualaikum?”, pintu rumah Fans diketok Pak Sholeh.
Wa’alaikumsalam, ya, sebentar”, sahut Fans pula.
Setelah dibuka pintu rumahnya, Fans sempat terkejut karena ada tamu istimewa datang di pagi buta. Tetapi itu pun tak membuat Fans kecewa ataupun marah karena siapa tahu ada berita penting yang memang akan disampaikannya.  Setelah tamu dipersilakan masuk dan dipersilakan duduk oleh Fans. Fans pun sambil menyiapkan minuman hangat pagi buat Pak Sholeh, tanpa sengaja Pak Sholeh mendapati koleksi akik milik Fans yang dipajang di etalase berjejer dengan koleksi keramik kesukaan keluarga itu. Batu akik yang dimilikinya sangatlah banyak dan beragam, ada 10 bok tempat batu akik tertata rapi dan unik susunanya, mulai dari batu Bacan hijau cantik bermotif hitam, Kecubung ungu yang menawan, Safir biru star yang menarik, Zamrud hijau temaram bening, Opal Kalimaya klasik dengan warna warni seperti lampu diskotik yang khas, Giok yang indah, Lavender si ungu muda, Red Raflesia, Badar Emas, dan masih banyak yang lainnya, yang bisa dikategorikan termasuk batuan mahal menurutnya. Hal ini sempat membuat Pak Sholeh heran bahkan terpukau melihat semuanya itu.
Tak lama kemudian,  Fans datang membawa sajian teh siap dihidangkan untuk Pak Sholeh
“Silakan Pak Sholeh duduk dan menikmati hangatnya teh buatan saya, bagaimana kabarnya dan ada yang bisa dibantu?” begitu sapa Fans dengan hangat.
            “Iya Pak Fans,sebelumnya minta maaf  pagi betul harus bertandang ke rumah Bapak, dan terima kasih sekali, saya hanya akan menyampaikan pesanan Bapak Ketua Rukun Tetangga  tentang  hasil  rapat  Bapak-bapak  kemarin malam tentang keputusan bersama akan pemberlakuan  jadwal ronda masing-masing nama warga beserta denda yang akan diberlakukan berkaitan dengan ketidakhadirannya. Behubung Pak Fans sangat sibuk maka saya menyampaikan hal ini pada Bapak”, begitu tuturan Pak Sholeh..
            Selang beberapa menit menyampaikan segala sesuatu tentang keputusan ronda secara rinci, akhirnya Pak Sholeh bergegas memohon ijin untuk berpamitan karena dirasa sudah cukup segala sesuatu disampaikannya pada Bapak Fans, bahkan seharusnya sebentar lagi  Fans akan segera berangkat menunaikan tugas kerjanya pagi ini. Tak lupa Fans mengucapkan terima kasih atas perhatian Bapak Sholeh padanya.
***
            Seminggu kemudian setelah Pak Sholeh berkunjung ke rumah Fans, ternyata hal ini membuat Fans tambah tak bisa berkutik karena ternyata si bungsu ketika Fans pulang lebih awal, si kecil bertanya pada Fans bahwa apakah paranormal itu, Yah? Apakah ayah seorang paranormal karena batu akik yang begitu banyak? karena menurut  para tetangga, si ayah adalah paranormal, Fans pun  tambah kebingungan  harus menjawab seperti apa karena si bungsu belum begitu paham akan arti semua itu. 
            Fans pun hanya bisa diam dan tidak langsung menjawabnya. Meskipun dalam hatinya, Fans merasa zona nyamannya mulai terganggu dengan kondisi seperti itu. Fans yang tidak banyak berkata- kata itu sempat goyah karena seolah warga masyarakat tidak bisa menerima  kondisi Fans disitu. Begitu sulitnya, apakah  harus Fans menyampaikan semua tentang hidupnya pada semua warga? Hati bergejolak, dilema melanda bahkan ia seolah-olah sulit menerima  sebuah kemyataan..
Setelah si bungsu beranjak pergi, Fans pun bergegas masuk kamar dengan kepala mendidih , dan dengan  tangan mengepal  sekuat tenaga, dia pun menghunjamkannya tepat ke cermin yang ada di depannya. Sang istri pun sontak terkejut, dan mencoba meredam gejolak kemarahan suaminya. Didatangi suaminya dan dipegang pundaknya sambil berucap,
            “Sabar Yah, bagaimana pun sabar,”  begitu kalimat itu terlontar dari bibir manis strinya.
            “Aku paham yang dimaksud Fadhil bertanya pada Ayah seperti  itu, dia masih kecil dan sangat polos menyampaikan segala sesuatu apa adanya sesuai dengan lingkungan mengajarinya” begitu tukas lanjutannya.
            “Ayo duduklah dan kita patut istihgfar Yah”, sahut Lina.
            “Semuanya milik Alloh dan kita akan kembali padaNya, termasuk akan mempertanggungjawabkan segala perilaku dan tindakan kita dihadapanNya kelak ”, redam sang istri
Tak lama kemudian, Fans pun menyampaikan curahan hatinya.
            “Aku merasa meskipun aku tidak pernah mencampuri urusan orang lain diluaran, aku tidak pernah mengganggu mereka. Bolehlah orang berkata apapun asal tidak menuduhku seorang paranormal, aku merasa ini sudah penghinaan!, semua ini jelas bertentangan dengan hati nurani dan keyakinanku, lalu apa artinya ibadahku! ”, begitu jawab Fans.
            Sang istri pun memilih untuk diam membiarkan kondisi itu sejenak dengan mendengarkan apa saja ungkapan kegalauan suaminya itu.
***
            Selang berapa hari kemudian agar tidak menyulut api kemarahan maka Lina tak pernah menyinggung lagi kegalauan yang sedang menghantui pikiran suami tercintanya.
            Seminggu kemudian, saat itulah Fans mulai mereda dan mulai membicarakan kelanjutan masalah serius ini dengan istrinya. Fans pun dengan permasalahan yang terus bergelayut  akan kondisi satu itu dan merasa mengusik pikirannya. Tanpa berpikir panjang dia mengatakan pada istrinya, ingin berniat segera keluar dari kampung itu, atau secara geografis, ia ingin mengajak keluarga kecilnya segera berpindah tempat tinggal dari perkampungan itu. Biar masalah itu selesai menurut solusi pendeknya Fans.
Tetapi sang istri justru dengan sabar dan tenang tetap berusaha memberikan masukan, saran dan keredaan akan gejolak hati pada suaminya itu.
            “Yah, ingatkah akan rejeki kita yang saat ini kita peroleh?”, begitu tenangnya sang istri menyampaikan dengan penuh perhatian.
            “Rumah yang kita tempati ini adalah rumah yang kita dapatkan atas waris orang tua kita, yang pernah kita tau bahwa di sertifikat itu sudah tertuliskan bahwa hak milik ini sudah diatas namakan Ayah?”, begitu perlahan dan hati-hati Lina sang istri menyampaikan dan mengingatkan akan permasalahan suaminya itu.
            Sedikit penuh perhatian pula dan mengingatkan akan perjuangan orang tua yang telah berjuang membebaskan tanah ini dari perebutan sengit ahli waris antar saudara kandungnya yang saling mengancam akan membunuh. Sungguh  bisa menempati rumah di perkampung Lina ini semuanya  penuh  perjuangan tak berhenti dan harus ikhlas menempatinya secara lahir dan batin demi menghormati keputusan orang tuanya.  Maka Fans mencoba meredam gejolak yang sempat mendidihkan kepalanya itu, meskipun hati kecilnya terkadang tetap agak sulit bisa menerima tuduhan tak beralasan tersebut.
* * *

PENULIS
Nama saya Yuni Iswari Dewi, S. Pd. Saya adalah seorang pengabdi negara di dunia pendidikan yang selalu dan senantiasa senang,  asyik dan unik berdampingan dengan anak-anak yang, dengan polosnya serta semangatnya menjadikan lecutan motivasi yang luar biasa bagi saya secara pribadi. Di bawah Kementerian Agama, ikut mengemban amanah di sebuah Madrasah Tsanawiyah Negeri Piyungan, tepatnya berlokasi di Jalan Wonosari Km.10 Yogyakarta 55792 (jikalau pernah berkunjung ke Kids Fun, maka sekitar 1 km ke arah selatannya). Ayo monggo jika pas rekreasi disana bisa silaturahmi untuk mengikat tali persaudaraan yang insyaalloh tidak akan putus di dunia dan akherat,aamiin. Boleh di add facebooknya atas,  nama saya, semoga bertambah teman, bertambah pula ilmu kita. Aamiin.


* Karya ini diantologikan dalam Antologi Cerpen Bangku Taman, hasil karya kelas memasak cerita, terbit cetakan pertama pada bulan Oktober 2017.