Fans
Karya : Yuni Iswari Dewi
***
Badan agak berisi, tinggi standar
laki-laki sama seusia dengan lelaki seumur 30 tahunan, kulit agak kecokelatan,
dan rupa bisa dikategorikan bisa menjadi dambaan para wanita cantik. Dialah
Fans, seorang lelaki yang sudah mengarungi mahligai perkawinan selama 10 tahun
lamanya. Fans dan istri telah dikaruniai dua orang jagoan hebat, yang satu
berumur 8 tahun,
lalu yang satunya baru memasuki usia 3 tahun. Fans sedikit agak canggung
melemparkan senyum indahnya pada orang lain, apalagi kepada orang yang baru
dikenalnya. Dia pun pandai menyimpan sejuta cerita hidupnya dan masa lalunya
kecuali pada istrinya.
Satu tahun lalu akhirnya Fans dan istri
memutuskan untuk berpindah tempat tinggal dengan kemauan hidup berpisah dari
keluarga Lina, sang istri, yaitu dengan menempati rumah di sebuah perkampungan
yang berlokasi di tengah perkotaan. Sebuah perkampungan yang, biasa orang sebut Kampung Janganan, tepatnya di wilayah Sewon,
kabupaten Bantul. Masyarakatnya mayoritas berprofesi sebagai buruh atau pekerja
kasar, bisa dikatakan perbandingannya dengan pekerja kantoran, 90 % :10%. Rumah yang mereka tempati itu sebenarnya sudah
berdiri 10 tahun yang lampau, tadinya menjadi rumah yang disewakan, akan tetapi
dua bulan terakhir penghuni kontrakan melarikan diri karena tidak sanggup
menyelesaikan pelunasan pembayaran pada kontrak sewa rumah seperti perjanjian di
awal menempati.
Suatu
ketika, Fans yang terleka dengan aktivitasnya, ia pun menjadi buah bibir
masyarakat, karena memang Fans jarang berbaur dengan warga sekitar, ia sibuk
dengan menjalankan usaha managernya di beberapa cabang di wilayah bahkan
terkadang harus ke cabang di luar kota. Beberapa kali pertemuan warga pun, ia
tidak bisa merapat, karena memang sangatlah menyita waktu baginya. Berangkat
mengais rezeki sebelum surya keluar dan pulang pun mentari tak menyapanya pula. Kantornya tempat bekerja
bergerak di distributor alat kesehatan. Fans dipercaya mengemban instruksi langsung
dari bos nya sehingga segala perputaran produk milik Koh Cuang menjadi tanggung
jawab yang harus dia selesaikan dengan baik dan maksimal. Sosok Fans mencatat
segala pemasukan, pengeluaran bahkan sampai penghitungan laba dalam periode
tertentu, tak lupa cekatan dan tangkas merampungkan tugas penuh semangat
membara dan telaten memainkan spekulasi perkembangan bisnis kantornya. Sungguh
luar biasa hati dan pikirannya tertaut dengan perusahaan Koh Cuang. Memang
benar adanya, setiap perusahaan bisa memperoleh laba besar karenanya, , Koh
Cuang memberikan Fans hadiah berpesiar dengan keluarga kecilnya ke luar negeri.
***
Malam menghembuskan udara
dingin tepatnya Sabtu malam pukul 19.30 waktu itu, ada acara di kampung tempat tinggal
Fans. Ia pun tidak pula bisa mendatangi acara pertemuan warga yaitu perkumpulan
para Bapak, Seperti biasa, sebuah pertemuan rutin triwulan yang berlangsung.,
Yang biasanya Pak Seno rajin menyambangi Fans sebelum acara rapat dimulai,
namun kebosanan pun melandanya karena ternyata Fans sudah pasti tidak bisa
berangkat seperti biasanya, hal tersebut sudah berlangsung pada satu tahun terakhir ini, yang akhirnya Pak
Seno pun memutuskan berangkat dari rumah sendiri tanpa teman meskipun rumahnya
berhadapan dengan rumah Fans. Lama kelamaan, akhirnya Fans sempat menjadi bahan
guncingan warga. Apakah memang sangatlah sibuk sekali untuk urusan kerjanya
saja dalam prinsip hidupnya itu, padahal sebenarnya setiap orang pasti bisa
memanage waktu, mulai dari urusan rumah tangganya, kerjanya, keluarganya bahkan
bersosialisai dengan masyarakat sekitar. Beberapa tetangga sampai bilang “ora
lumrah uripe neng kampung ngantek ora biso ngombyongi tonggo”. Itu tuturan
segelintir tetangga yang berada dalam kondisi heterogen profesi didalamnya.
Parahnya lagi, beberapa tetangga yang terkadang menunggu kepulangan Fans dari
kerja di angkringan Om Roziqin seberang jalan agak timur laut terpaut hanya 30
meter dari rumahnya Fans Akhirnya warga kampung
pun menjadi tambah penasaran karena hal tersebut. Dari mulai ingin tahu
dilanjut penasaran dan seolah ingin mengintrogasi sosok Fans yang sulit ditemui
itu. Ada apa denganmu Fans?
Hem…udara
bersih dan segar pun mulai menyapa, bau menyengat tanah basah setelah semalam diguyur hujan pun membuat kita penikmat
pagi segera ingin berjibaku dengan aktivitas rutin kesehariannya, tiba-tiba ba’da
sholat Subuh sepulang dari masjid Al-Mukmin, tepatnya Hari Selasa, tetangga sebelah
barat rumah menyambangi rumah Fans, Pak
Sholeh sebut namanya, ia ingin bersua menyampaikan hasil rapat kemarin malam
tentang kesepakatan ronda yang sudah diputuskan bersama. Karena memang Pak
Sholeh sudah diberi amanah untuk menyampaikan pesan berupa hasil rapat khusus
pada Fans oleh Bapak Sihono, selaku ketua Rukun Tetangga di wilayah itu. Pak
Sholeh ini adalahtetangga yang berprofesi buruh srabutan, pekerjaan apa yang
menghasilkan uang maka segera ia sabetnya.Terakhir ini Pak Sholeh ikut membantu
orang menyelesaikan pembuatan rumah ular berbahan kayu yang nanti akan dikirim
ke Australia.
“Tok
tok tok, Assalamualaikum?”, pintu
rumah Fans diketok Pak Sholeh.
“Wa’alaikumsalam, ya, sebentar”, sahut
Fans pula.
Setelah dibuka pintu rumahnya, Fans
sempat terkejut karena ada tamu istimewa datang di pagi buta. Tetapi itu pun
tak membuat Fans kecewa ataupun marah karena siapa tahu ada berita penting yang
memang akan disampaikannya. Setelah tamu
dipersilakan masuk dan dipersilakan duduk oleh Fans. Fans pun sambil menyiapkan
minuman hangat pagi buat Pak Sholeh, tanpa sengaja Pak Sholeh mendapati koleksi
akik milik Fans yang dipajang di etalase berjejer dengan koleksi keramik
kesukaan keluarga itu. Batu akik yang dimilikinya sangatlah banyak dan beragam,
ada 10 bok tempat batu akik tertata rapi dan unik susunanya, mulai dari batu Bacan hijau cantik bermotif hitam, Kecubung ungu yang menawan, Safir biru star yang menarik, Zamrud hijau temaram bening, Opal Kalimaya klasik dengan warna warni
seperti lampu diskotik yang khas, Giok
yang indah, Lavender si ungu muda, Red Raflesia, Badar Emas, dan masih banyak yang lainnya, yang bisa dikategorikan
termasuk batuan mahal menurutnya. Hal ini sempat membuat Pak Sholeh heran
bahkan terpukau melihat semuanya itu.
Tak
lama kemudian, Fans datang membawa sajian
teh siap dihidangkan untuk Pak Sholeh
“Silakan
Pak Sholeh duduk dan menikmati hangatnya teh buatan saya, bagaimana kabarnya
dan ada yang bisa dibantu?” begitu sapa Fans dengan hangat.
“Iya Pak Fans,sebelumnya minta maaf pagi betul harus bertandang ke rumah Bapak,
dan terima kasih sekali, saya hanya akan menyampaikan pesanan Bapak Ketua Rukun
Tetangga tentang hasil rapat Bapak-bapak kemarin malam tentang keputusan bersama akan
pemberlakuan jadwal ronda masing-masing
nama warga beserta denda yang akan diberlakukan berkaitan dengan
ketidakhadirannya. Behubung Pak Fans sangat sibuk maka saya menyampaikan hal
ini pada Bapak”, begitu tuturan Pak Sholeh..
Selang beberapa menit menyampaikan
segala sesuatu tentang keputusan ronda secara rinci, akhirnya Pak Sholeh bergegas
memohon ijin untuk berpamitan karena dirasa sudah cukup segala sesuatu
disampaikannya pada Bapak Fans, bahkan seharusnya sebentar lagi Fans akan segera berangkat menunaikan tugas
kerjanya pagi ini. Tak lupa Fans mengucapkan terima kasih atas perhatian Bapak
Sholeh padanya.
***
Seminggu kemudian setelah Pak Sholeh
berkunjung ke rumah Fans, ternyata hal ini membuat Fans tambah tak bisa
berkutik karena ternyata si bungsu ketika Fans pulang lebih awal, si kecil
bertanya pada Fans bahwa apakah paranormal itu, Yah? Apakah ayah seorang
paranormal karena batu akik yang begitu banyak? karena menurut para tetangga, si ayah adalah paranormal, Fans
pun tambah kebingungan harus menjawab seperti apa karena si bungsu
belum begitu paham akan arti semua itu.
Fans pun hanya bisa diam dan tidak
langsung menjawabnya. Meskipun dalam hatinya, Fans merasa zona nyamannya mulai
terganggu dengan kondisi seperti itu. Fans yang tidak banyak berkata- kata itu
sempat goyah karena seolah warga masyarakat tidak bisa menerima kondisi Fans disitu. Begitu sulitnya, apakah harus Fans menyampaikan semua tentang hidupnya
pada semua warga? Hati bergejolak, dilema melanda bahkan ia seolah-olah sulit
menerima sebuah kemyataan..
Setelah
si bungsu beranjak pergi, Fans pun bergegas masuk kamar dengan kepala mendidih ,
dan dengan tangan mengepal sekuat tenaga, dia pun menghunjamkannya tepat ke
cermin yang ada di depannya. Sang istri pun sontak terkejut, dan mencoba
meredam gejolak kemarahan suaminya. Didatangi suaminya dan dipegang pundaknya
sambil berucap,
“Sabar Yah, bagaimana pun
sabar,” begitu kalimat itu terlontar
dari bibir manis strinya.
“Aku paham yang dimaksud Fadhil
bertanya pada Ayah seperti itu, dia
masih kecil dan sangat polos menyampaikan segala sesuatu apa adanya sesuai
dengan lingkungan mengajarinya” begitu tukas lanjutannya.
“Ayo duduklah dan kita patut
istihgfar Yah”, sahut Lina.
“Semuanya milik Alloh dan kita akan
kembali padaNya, termasuk akan mempertanggungjawabkan segala perilaku dan
tindakan kita dihadapanNya kelak ”, redam sang istri
Tak
lama kemudian, Fans pun menyampaikan curahan hatinya.
“Aku merasa meskipun aku tidak
pernah mencampuri urusan orang lain diluaran, aku tidak pernah mengganggu
mereka. Bolehlah orang berkata apapun asal tidak menuduhku seorang paranormal,
aku merasa ini sudah penghinaan!, semua ini jelas bertentangan dengan hati
nurani dan keyakinanku, lalu apa artinya ibadahku! ”, begitu jawab Fans.
Sang istri pun memilih untuk diam
membiarkan kondisi itu sejenak dengan mendengarkan apa saja ungkapan kegalauan
suaminya itu.
***
Selang berapa hari kemudian agar
tidak menyulut api kemarahan maka Lina tak pernah menyinggung lagi kegalauan
yang sedang menghantui pikiran suami tercintanya.
Seminggu kemudian, saat itulah Fans
mulai mereda dan mulai membicarakan kelanjutan masalah serius ini dengan
istrinya. Fans pun dengan permasalahan yang terus bergelayut akan kondisi satu itu dan merasa mengusik
pikirannya. Tanpa berpikir panjang dia mengatakan pada istrinya, ingin berniat segera
keluar dari kampung itu, atau secara geografis, ia ingin mengajak keluarga
kecilnya segera berpindah tempat tinggal dari perkampungan itu. Biar masalah
itu selesai menurut solusi pendeknya Fans.
Tetapi
sang istri justru dengan sabar dan tenang tetap berusaha memberikan masukan,
saran dan keredaan akan gejolak hati pada suaminya itu.
“Yah, ingatkah akan rejeki kita yang
saat ini kita peroleh?”, begitu tenangnya sang istri menyampaikan dengan penuh
perhatian.
“Rumah yang kita tempati ini adalah
rumah yang kita dapatkan atas waris orang tua kita, yang pernah kita tau bahwa
di sertifikat itu sudah tertuliskan bahwa hak milik ini sudah diatas namakan
Ayah?”, begitu perlahan dan hati-hati Lina sang istri menyampaikan dan
mengingatkan akan permasalahan suaminya itu.
Sedikit penuh perhatian pula dan
mengingatkan akan perjuangan orang tua yang telah berjuang membebaskan tanah
ini dari perebutan sengit ahli waris antar saudara kandungnya yang saling
mengancam akan membunuh. Sungguh bisa
menempati rumah di perkampung Lina ini semuanya
penuh perjuangan tak berhenti dan
harus ikhlas menempatinya secara lahir dan batin demi menghormati keputusan
orang tuanya. Maka Fans mencoba meredam
gejolak yang sempat mendidihkan kepalanya itu, meskipun hati kecilnya terkadang
tetap agak sulit bisa menerima tuduhan tak beralasan tersebut.
*
* *
PENULIS
Nama saya Yuni Iswari
Dewi, S. Pd. Saya adalah seorang pengabdi negara di dunia pendidikan yang
selalu dan senantiasa senang, asyik dan
unik berdampingan dengan anak-anak yang, dengan polosnya serta semangatnya
menjadikan lecutan motivasi yang luar biasa bagi saya secara pribadi. Di bawah
Kementerian Agama, ikut mengemban amanah di sebuah Madrasah Tsanawiyah Negeri
Piyungan, tepatnya berlokasi di Jalan Wonosari Km.10 Yogyakarta 55792 (jikalau
pernah berkunjung ke Kids Fun, maka sekitar 1 km ke arah selatannya). Ayo
monggo jika pas rekreasi disana bisa silaturahmi untuk mengikat tali
persaudaraan yang insyaalloh tidak akan putus di dunia dan akherat,aamiin. Boleh
di add facebooknya atas, nama saya,
semoga bertambah teman, bertambah pula ilmu kita. Aamiin.
* Karya ini diantologikan dalam Antologi Cerpen Bangku Taman, hasil karya kelas memasak cerita, terbit cetakan pertama pada bulan Oktober 2017.

